Prinsip-prinsip Pertumbuhan dan Perkembangan
![]() |
| pxhere |
Untuk memberikan pemahaman terhadap perkembangan anak, seorang guru perlu memahami prinsip-prinsip perkembangan anak itu sendiri. Melalui langkah ini, penafsiran guru, orang tua, serta pihak-pihak yang terkait dengan tumbuhkembang anak dapat diberikan secara profesional dan tidak salah kaprah. Setidaknya, ketika guru, orang tua, dan atau pihak-pihak yang terkait dengan tumbuhkembang anak melihat ada perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain dalam rentang usia yang sama, maka hal tersebut tidak serta merta menimbulkan persoalan.
Berikut ini disajikan sejumlah prinsip-prinsip perkembangan anak, yaitu:
Perkembangan berlangsung secara kontinyu dan tidak terputus
Prinsip ini menunjukkan bahwa sepanjang manusia hidup maka sepanjang masa itulah perkembangan akan terus terjadi. Perkembangan dimulai ketika masa konsepsi sampai akhir hayatnya, yang ditandai oleh adanya perubahan pada diri individu, baik perubahan dalam ukuran maupun perubahan dalam fungsi.
Perkembangan berlangsung dalam urutan yang terpola
Perkembangan individu terjadi secara teratur mengikuti atau pola tertentu. Setiap perkembangan individu, sesungguhnya merupakan hasil perkembangan yang dicapai pada tahap-tahap sebelumnya dan merupakan bagian yang terintegrasi dengan lingkup-lingkup perkembangan anak itu sendiri. Sebagai contoh, kemampuan anak berjalan, tidak dapat dilepaskan dari pencapaian kemampuan anak berdiri yang sudah dicapai sebelumnya, dan kemampuan ini dipengaruhi oleh semakin kuatnya otot-otot kaki yang terjadi pada anak.
Dalam konteks yang lebih luas, Yelon dan Weinsten (Syamsu, 2006:17-18) mengemukakan arah atau pola perkembangan sebagai berikut:
- Cephalocaudal & proximal-distal, yaitu perkembangan manusia yang dimulai dari kepala ke kaki (Cephalocaudal) dan dari tengah para guru, jantung dan sebagainya, ke pinggir, tangan (proximal-distal).
- Struktur mendahului fungsi. Hal ini berarti bahwa anggota tubuh individu akan dapat berfungsi setelah matang strukturnya. Seperti mata, akan dapat melihat setelah otot-ototnya matang atau kaki dapat difungsikan untuk berjalan setelah otot-ototnya matang.
- Perkembangan itu berdiferensiasi. Artinya perkembangan tersebut berlangsung dari umum ke khusus. Kondisi seperti ini terjadi dalam semua lingkup perkembangan baik fisik maupun psikis, seperti bayi menendang-nendang kakinya secara sembarangan sebelum fokus pada benda, arah, dan ukuran tertentu.
- Perkembangan berlangsung dari kongkret ke abstrak. Artinya perkembangan tersebut berproses dari suatu kemampuan berpikir yang kongkret dengan objek yang tampak jelas ke arah yang lebih abstrak, seperti anak berhitung dengan bantuan jari tangannya sementara pada masa selanjutnya tidak memerlukan bantuan seperti itu.
- Perkembangan itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektivisme. Artinya seorang anak yang pada awalnya fokus pada diri sendiri secara berangsur melihat lingkungan sebagai bagian dari faktor yang dapat memenuhi kebutuhannya.
- Perkembangan itu berlangsung dari “outter control to inner control.” Artinya anak yang pada awalnya berada dalam kontrol lingkungan, seperti ketergantungan pada orang tua dan kontrol lingkungan menuju ke arah kemandirian yang memungkinkan anak melakukan kontrol terhadap dirinya sendiri.
Irama dan tempo perkembangan bersifat individual
Sekalipun perkembangan memiliki arah dan pola tertentu, akan tetapi irama dan tempo perkembangan sesungguhnya bersifat unik. Artinya sekalipun seorang anak berada dalam rentang usia yang sama, akan tetapi tahapan pencapaian tugas-tugas perkembangan sangat mungkin berbeda. Sebagai contoh, anak-anak tertentu ada yang memiliki kemampuan berjalan pada usia 9 bulan, sementara yang lain baru dapat berjalan pada usia 12 atau 13 bulan. Demikian pula dengan kemampuan anak menggenggam, melempar, dan perkembangan lainnya.
Perkembangan bergerak dari yang umum ke yang khusus
Anak-anak cenderung akan memperhatikan benda-benda dalam pandangan global, utuh, dan nyata sebelum memperhatikan hal-hal yang lebih spesifik atau ditail. Sebagai contoh, ketika anak memperhatikan berbagai jenis mainan, maka anak cenderung akan memperhatikan mainan tersebut secara utuh. Seiring dengan bertambahnya usia dan berfungsinya kemampuan penglihatan anak, maka keinginan anak untuk memperhatikan ditail dari mainan tersebut juga akan berkembang.
Hasil proses belajar tergantung pada tingkat kematangan yang dicapai
Perkembangan yang dicapai anak sangat tergantung pada tingkat kematangan yang dicapai anak itu sendiri. Seorang anak yang belum mencapai kematangan untuk berdiri, akan sangat sulit jika diminta melakukan aktifitas berjalan atau bahkan berlari. Demikian pula dengan kemampuan melempar, yang akan sulit dapat dilakukan jika kemampuan anak menggenggam belum dikuasai dengan baik.
Faktor-faktor hereditas dan lingkungan memiliki pengaruh yang sama kuat terhadap proses perkembangan.
Sekalipun ada yang berpandangan bahwa faktor lingkungan lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, akan tetapi sejatinya kedua faktor tersebut memiliki pengaruh yang sama. Sulit bagi anak untuk tidak mewarisi sifat-sifat kedua orang tuanya, termasuk dalam lingkup kogntif.
Perkembangan dapat mengalami kemunduran dan dapat pula dipercepat dalam batas-batas tertentu.
Melalui berbagai stimulasi dan keadaan yang dialami anak, maka sangat mungkin terjadi adanya kemunduran dan percepatan dalam perkembangan anak, sekalipun tidak terjadi secara ekstrim.Anak-anak yang memiliki asupan gizi yang rendah, sangat mungkin mengalami perlambatan dalam pencapaian pertumbuhan dan perkembangannya. Gizi yang rendah, memungkinkan memperlambat tumbuhnya otot-otot kaki yang membuatnya lambat memiliki kemampuan berjalan. Sementara itu, anak-anak yang memiliki stimulasi gizi atau lingkungan yang baik, dimungkinkan pula untuk memperoleh kemampuan berjalan, bersosialisasi, memperhatikan ditail yang relatif lebih cepat dari perkembangan rata-rata anak lainnya.
Pada usia tertentu terdapat perbedaan perkembangan/ pertumbuhan antara anak laki-laki dengan anak perempuan.
Pengaruh hormonal pada anak laki-laki dan perempuan memiliki pengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Anak perempuan cenderung mengalami keterlambatan pertumbuhan tinggi badan ketika memasuki usia 15-17 tahun, sementara anak laki-laki masih mengalaminya sampai rata-rata usia 21 tahun. Anak perempuan cenderung terlihat lebih dewasa pada rentang usia yang sama dengan laki-laki, sekalipun pada usia-usia selanjutnya relatif lebih sejajar.
Bagian sifat-sifat individu dalam perkembangannya saling berkorelasi secara positif.
Sesuai dengan istilahnya, individu yang berasal dari kata un-devided yang bermakna tidak dapat dipisahkan, maka dalam perkembangannya, sifat-sifat yang dimiliki iindividu saling berkorelasi secara positif, baik sifat yang herediter maupun terbentuk dari lingkungan.
